Fenomena Penyimpangan Fitrah Seksual

Pada diri manusia sudah sewajarnya terdapat dorongan seksual. Dorongan seksual ini merupakan karunia yang diberikan Allah dan sekaligus amanat yang harus dijaga. Islam telah memberi aturan dan petunjuk bagaimana dorongan seksual ini dapat bersesuaian dengan fitrah seksualitas dalam artian dapat tersalurkan dengan cara yang benar.

Dorongan seksual adalah fitrah seksualitas dimana untuk memenuhinya merupakan sebuah kodrat yang harus sejalan dengan norma agama. Agama telah melarang dorongan seksual yang mengarah pada hubungan seksual menyimpang. Penyimpangan fitrah seksual yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan akan berdampak pada kebutuhan manusia untuk berkembang biak.

Fitrah seksual adalah bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang lelaki atau seorang perempuan. Menumbuhkan fitrah ini tergantung pada kehadiran dan kedekatan seorang anak pada ayah dan ibu. Ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak sejak lahir sampai aqil baligh agar fitrah seksualitas anak dapat tumbuh paripurna. Banyak penelitian yang membuktikan apabila seorang anak yang tidak dekat dengan orang tuanya sejak usia dini, akan mengalami gangguan jiwa, depresi, bahkan memiliki masalah sosial sampai penyimpangan seksual.

Penyimpangan seksual atau ketidakwajaran seksual adalah bentuk dorongan dan kepuasan seksual yang diperoleh atau ditunjukkan dengan tidak sewajarnya. Penyimpangan seksual bisa diikuti dengan fantasi seksual secara tidak lazim misalnya pencapaian orgasme melalui hubungan di luar dengan sesama jenis, atau dari partner seks di bawah umur, atau hubungan seksual yang bertentangan dengan norma tingkah laku yang diakui masyarakat pada umumnya. Dari sinilah timbul asumsi bahwa penyimpangan seksual adalah bentuk penyalahgunaan fitrah seksual dan bertentangan dengan akal sehat.

Sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa pernikahan sesama jenis telah dilegalkan di beberapa bagian negara tertentu. Kaum Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) sudah berani tampil di depan publik dan menyuarakan agar hak-hak mereka juga dipenuhi. Kaum LGBT ingin agar komunitas mereka juga segera dilegalkan di Indonesia, dengan dalih penyetaraan Hak Asasi Manusia (HAM). Muncul berbagai pro dan kontra mengenai golongan kaum ini.

Sumber gambar: Shirotol Mustaqim

Benar bahwa setiap manusia mempunyai kebebasan masing-masing, bebas memilih dengan pilihannya masing-masing.

Tapi apakah kebebasan dan pilihannya sudah sesuai dengan norma agama dan adat istiadat yang telah berlaku? Apakah hak nya sudah tidak melanggar kesusilaan kepentingan umum?

Pada kenyataannya hubungan pernikahan kaum LGBT tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan manusia untuk bereproduksi. Mereka menyangkal dengan mengkampanyekan gerakan adopsi anak dan persewaan rahim sebagai sarana berkembang biak. Miris sekali mendengarkan kodrat suci seorang perempuan yang berjihad hamil dan melahirkan sebuah generasi hanya dihargai dengan harga serendah ‘persewaan rahim’.

Dalam agama Islam pun Allah telah melarang keras hamba-Nya agar tidak masuk ke dalam golongan orang–orang yang menyukai sesama jenis. Lesbian dan Gay telah mengukir sejarah tersendiri dalam perjalanan umat manusia. Penyimpangan seks sesama jenis pada zaman dahulu memang sudah ada dan menjadi salah satu bagian dari pola seks manusia. Kaum Nabi Luth adalah salah satu contoh kaum sodom yang telah mendapat azab dari Allah.

Dengan tegas Allah menyatakan, fitrah manusia diciptakan dengan dua jenis, laki-laki dan perempuan dan menjadikan berbangsa dan bersuku-suku (QS. Al-Hujurat: 13). Allah pun juga memberikan masing-masing syahwat kepada lawan jenisnya. Karena itu, Allah menetapkan, bahwa mereka dijadikan hidup berpasangan dengan sesama manusia, pria dengan wanita. Tujuannya, agar nalurinya terpenuhi, sehingga timbul rasa tenteram dan dijadikan-Nya diantara lelaki dan perempuan rasa kasih sayang (QS. Ar-Rum: 21). Dari pasangan ini, kemudian lahir keturunan yang banyak, sehingga eksistensi manusia tidak punah. Itulah mengapa Allah menjadikan perempuan sebagai ladang bagi pria, agar bisa ditanami, sehingga tumbuh subur dari rahimnya, dan melahirkan keturunan (QS. Al-Baqarah: 223).

LGBT bukan fitrah, bukan kodrat, bukan takdir dan bukan bawaan lahir. Apabila LGBT adalah sebuah fitrah tentunya Allah tidak akan menghukum pelakunya dan memberikan azab. Oleh karena itu sangat penting sekali peran orang tua dalam hal pendidikan fitrah seksualitas sejak lahir.

Kedekatan orang tua dapat membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok laki-laki dan perempuan, sehingga secara alamiah mereka dapat menempatkan diri sesuai fitrah seksualnya. Baik cara bicara, cara berpakaian, cara berpikir dan bernalar maupun cara bertindak sesuai fitrahnya, laki-laki ataupun perempuan.

Semoga kita dapat merenungi dan menerapkan penddikan fitrah seksual pada anak-anak kita. Sehingga tidak akan ada lagi generasi dengan penyimpangan seksual. Anak perempuan bisa tumbuh menjadi perempuan yang utuh dan ibu sejati, sedangkan anak laki-laki bisa tumbuh menjadi pria yang utuh dan ayah sejati. Semoga Allah melindungi kita dan anak keturunan kita dari penyimpangan fitrah seksual.


Ir’fai, Imam. “LGBT Bukan Fitrah, tapi Penyimpangan Seksual”, dalam Voa Islam (diakses 13 Juni 2018)

Masmuri, dkk. 2018. “Penyimpangan Seksual : Sebuah Interpretasi Teologi, Psikologi, dan Pendidikan Islam”, Pontianak.

Santosa, Harry. 2017.”Fitrah Based Education”. Bekasi: Yayasan Cahaya Mutiara Timur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.